Waspadai Dampak Buruk dari Game Online

Fenomena permainan online menembus orang-orang muda dan bahkan orang dewasa di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara. Jenisnya juga bervariasi. Ada yang gratis, ada yang dibayar.
Pengamat ekonomi Dr Victor Lengkong mengatakan, game online memiliki potensi untuk memiskinkan masyarakat. Sadar atau tidak, hal-hal seperti ini meruntuhkan penghasilan individu, termasuk kepala keluarga, “kata Lengkong.
Dia menambahkan bahwa ini adalah makna tersembunyi kemiskinan bagi pekerja individu di Sulawesi Utara. Kondisi ini terjadi di sebagian besar masyarakat menengah ke bawah di Sulawesi Utara, “katanya.


Berbeda halnya dengan keluarga yang benar-benar kurang beruntung atau hidup biasa-biasa saja tanpa dipengaruhi gadget. Tetapi biaya sekolah mereka gratis, kesehatan juga gratis. Jika upah mereka per hari hanya Rp100, tetapi tanpa potongan dan biaya kredit maka hidup mereka akan lebih sejahtera daripada keluarga perorangan yang mendapat Rp5 hingga 7 juta per bulan dengan berbagai pengeluaran yang memiskinkan, “katanya.

Sementara itu, Sosiolog Sulawesi Utara Lidya Kandowangko MA membenarkan fenomena game online semakin meluas. Tidak hanya untuk anak-anak dan remaja tetapi untuk orang dewasa. Kecanduan ini bisa berakibat buruk jika tidak dikendalikan dan mengganggu kegiatan produktif, “tutupnya.

Tentunya bermain online membutuhkan dana yang tidak kecil untuk menyewa perangkat komputer di warnet atau membeli kuota. Pola konsumsi masyarakat dapat bergeser ke arah pemenuhan hobi konsumtif yang tidak konsisten dengan penghasilan, jadi jangan heran jika ada anak-anak atau remaja yang lebih memilih untuk membeli voucher kuota internet daripada membeli makanan, “jelasnya.

Pengamat sosial ini juga menambahkan bahwa jika biaya untuk kebutuhan dasar sebenarnya digunakan untuk membeli kuota maka itu dapat menyebabkan kemiskinan yang tidak disadari. Karena penghasilan masyarakat yang tidak dialokasikan untuk kegiatan produktif tetapi dalam kegiatan konsumen, “tutupnya.

Dia mengingatkan masyarakat bahwa fenomena ini mendapat perhatian serius karena dapat menurunkan kualitas pekerjaan, kurangnya keinginan belajar, kurangnya komunikasi dan kebersamaan keluarga. Juga bisa memiskinkan, “tutupnya.